Upacara Adat Manyantan Gordang Sambilan dan Gondang

ZonaSumut.com, Medan – Prosesi Manopot Horja atau pernikahan adat Mandailing antara Muhammad Bobby Afif Nasution dengan Kahiyang Ayu akan berlangsung di Kompleks Taman Setia Budi Indah I Bukit Hijau Regency No. 123 Medan, mulai 24-25 November 2017 dan dilanjutkan resepsi pada Minggu, 26 November 2017. Setelah melakukan ritual awal di hari Jumat (24/11) dengan Manalpokkon Lahan ni Horja atau pemotongan hewan kurban berupa kerbau, prosesi berikutnya adalah membunyikan gendang atau dalam bahasa Mandailing disebut Manyantan Gordang Sambilan dan Gondang.

Gondang atau gondang dua adalah ensambel musik yang juga dinamakan gondang boru, gondang topap, dan tunggu-tunggu dua. Alat musik ini terdiri dari dua buah gendang berbentuk “barrel”. Keduanya memiliki ukuran dan bentuk yang sama. Gondang dua atau gondang boru ini digunakan pada upacara adat siriaon (suka cita) misalnya upacara adat perkawinan yang berfungsi untuk menjemput pengantin perempuan atau untuk mengiringi ketika acara monortor atau menari secara adat. Terminologi “gondang” dalam bahasa Mandailing mengandung beberapa pengertian yaitu: alat musik, gabungan dari sejumlah alat musik (ensambel), nama lagu atau repertoar, irama atau ritmik, jenis musik tertentu, dan sebagai musik itu sendiri, yang sangat erat kaitannya dengan unsur-unsur kebudayaan Mandailing lainnya.

“Kalau gondang itu yang kecil-kecil, kalau gordang yang besar-besar ada sembilan jumlahnya sehingga disebut Gordang Sambilan. Itu dipersiapkan namanya Manyantan Gordang dan Gondang,“ ujar Darmin Nasution, selaku suhut Manopot Horja, pada press conference di hari Kamis (23/11).

Begitu juga halnya dengan Gordang Sambilan yaitu sembilan gendang besar juga berfungsi pada acara adat untuk memeriahkan acara dan pertanda horja besar. Gordang sambilan terbuat dari pohon “ingul” tetapi pada saat sekarang tidak jarang memakai batang pohon kelapa karena pohon “ingul” sudah sulit ditemukan di hutan. Untuk membrannya yaitu “kulit lembu” yang diikat dengan rotan yang sebesar jari kelingking orang dewasa dan cara memainkannya dipukul dengan sepasang batang kayu. Gordang sambilan ini digunakan di dalam upacara adat “siriaon” dan “siluluton” (duka cita). Dalam hal ini, pengertian kata “gordang” adalah alat musik besar (drum chime) yang kalau dimainkan semakin lama bunyinya bergemuruh.

Gordang Sambilan adalah salah satu kesenian Tradisional suku Mandailing. Gordang artinya gendang atau bedug sedangkan sambilan artinya sembilan. Gordang Sambilan terdiri dari sembilan Gendang atau bedug yang mempunyai panjang dan diameter yang berbeda sehingga menghasilkan nada yang berbeda pula. Gordang Sambilan biasa dimainkan oleh enam orang dengan nada gendang yang paling kecil 1,2 sebagai taba-taba, gendang 3 untuk tepe-tepe, gendang 4 sebagai kudong-kudong, gendang 5 sebagai kudong-kudong nabalik, gendang 6 sebagai pasilion, dan gendang 7,8,9 sebagai jangat.

Menurut Pandapotan Nasution sebagai pemangku adat Mandailing, seluruh keluarga besar marga Nasution dan Siregar diharapkan bisa menghadiri prosesi Manyantan Gordang Sambilan ini. “Gordang Sambilan ini untuk mengiringi berbagai upacara adat yang sifatnya sakral dari suku Mandailing termasuk juga untuk pernikahan Bobby dan Kahiyang. Jadi Gordang Sambilan sebenarnya merupakan warisan budaya bangsa yang patut untuk dilestarikan tak hanya oleh suku Mandailing tapi juga seluruh masyarakat Indonesia,” ujar pemangku adat yang bergelar Patuan Kumala Pandapotan tersebut.

Di daerah asli lahirnya budaya tersebut, yakni Mandailing Natal, Sumatera Utara, tidak banyak yang dapat menjelaskan budaya Gordang Sambilan. Pasalnya, cerita lahirnya alat musik ini terdiri dari berbagai versi yang tak sama muaranya. Secara umum, warga Mandailing berpendapat bahwa budaya Gordang Sambilan di tanah Mandailing Natal telah diperkenalkan sejak zaman Kerajaan Nasution yang dipimpin oleh Raja Sibaroar pada 1575 silam. Ketika itu Gordang Sambilan telah dipergunakan sebagai alat musik untuk berbagai tradisi kerajaan, mulai dari pesta perkawinan hingga hiburan rakyat.

Kata “sambilan” atau angka sembilan yang menjelaskan jumlah gordang atau gendang, juga memiliki cerita khusus yang belum terpecahkan hingga saat sekarang karena tidak ada referensi yang jelas dan sahih mengenai asal-muasalnya. Versi yang berkembang, pada masa kerajaan dahulu, pemukul Gordang harus berjumlah sembilan orang, terdiri dari naposo bulung atau kaum muda, anak boru, kahanggi, serta raja itu sendiri. Namun versi lain menyebutkan angka sembilan melambangkan sembilan raja yang saat itu berkuasa di tanah Mandailing Natal, yakni Nasution, Pulungan, Rangkuti, Hasibuan, Lubis, Matondang, Parinduri, Daulay, dan Batubara.

Upacara Manyantan Gondang dan Gordang Sambilan pada prosesi pernikahan adat Mandailing untuk Bobby dan Kahiyang ini berbarengan dengan mendirikan bendera-bendera adat sebagai pertanda horja besar (horja godang). Ada beberapa bendera yang didirikan, antara lain bendera kebangsaan merah-putih, bendera raja-raja Desa Na Walu, bendera Harajaon, bendera Lipan-lipan, bendera Siararabe, dan bendera Alibutongan (Pelangi).

Perkawinan Muhammad Bobby Afif Nasution dengan Kahiyang Ayu adalah perkawinan antar etnik. Kahiyang Ayu sebagai etnik Jawa merayakan perkawinannya di Solo dengan adat Jawa, demikian juga Bobby merayakan perkawinannya di Medan dengan adat Mandailing. Secara silsilah Mandailing, Bobby Nasution merupakan raja generasi ke-7 dari keturunan Raja Gunung Baringin Nasution Mandailing Natal Penyabungan Timur.

Tinggalkan Balasan

Top