WACANA BUKA SEKOLAH DITENGAH WABAH, SOLUTIFKAH? Oleh: Viki N. Muswahida, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

226

Zonasumut.com-Hampir dua bulan siswa-siswi telah menjalani proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena dampak virus Corona.

Banyak suka duka yang mereka jalani entah dari pihak siswa, guru maupun dari orang tua.
Pendidikan yang dijalankan via daring, dari penyampaian materi, pemberian tugas, dan ujian online menuai banyak konsekuensi dan polemik. Pembelajaran dinilai kurang efektif selama pemberlakuan PJJ, terlihat dari survei KPAI yang mencatat setidaknya 246 aduan dari siswa selama PJJ berlaku.

Aduan didominasi keluhan tugas menumpuk dan waktu pengerjaan yang singkat. Melalui survei yang dilakukan KPAI terhadap 1.700 siswa, 79,9 persen siswa mengaku tak ada interaksi antara guru dan siswa selama PJJ kecuali memberi tugas.(cnnidonesia.com/ Sabtu, 09/05/2020).

Hal ini memperlihatkan bahwa pembelajaran jarak jauh selama pandemi covid-19 ini menuai banyak- banyak problem karena kurangnya persiapan menghadapi situasi disaat wabah. Demikian pula, permasalahan terkait akses teknologi di berbagai daerah yang masih belum merata.\

Ada sekolah yang dapat melakukan PJJ dengan lancar, ada pula yang mengalami kesulitan hingga guru harus mendatangi satu persatu murid yang justru kurang efisiensi waktu dan tenaga.
.
Selain hal tersebut, baru-baru ini muncul wacana dari Kementerian pendidikan dan kebudayaan yang berencana membuka kembali sekolah pada tahun ajaran baru 2020/2021 sekitar pertengahan Juli 2020.

Hal ini dikemukakan oleh Plt. Direktur jenderal PAUD, " Kita merencanakan membuka sekolah mulai awal tahun pelajaran baru, sekitar pertengahan Juli. Untuk daerah-daerah yang sudah dinyatakan aman oleh Satgas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan." ujarnya. (cnnindonesia.com/ Sabtu, 9/5/2020).

Entah wacana pembukaan sekolah ini dirasa sebagai angin segar atau justru akan menuai kontroversi dikalangan akademisi dan orang tua. Karena belum adanya kepastian bahwa virus tidak lagi menyebar dan yang terinfeksi sudah diisolasi. Faktanya, untuk memastikan siapa saja yan terinfeksi (melalui tes massal dan PCR) saja belum dilakukan. Alasannya karena kekurangan alat kesehatan.

Demikian pula, meskipun telah beredar kampanye kurva landai yang menunjukkan penekanan sebaran virus guna melonggarkan PSBB untuk kepentingan ekonomi, hal ini masih belum bisa dipastikan keakuratannya.
.
Terkait pembukaan sekolah pada tahun ajaran baru telah menuai kritik dari FSGI. Federasi Serikat Guru Indonesia khawatir siswa dan guru menjadi korban wabah covid-19 jika rencana kementerian pendidikan dan kebudayaan membuka sekolah pada pertengahan Juli 2020 diputuskan. (cnnindonesia.com/ Sabtu, 9/5/2020).

Meskipun rencana pembukaan sekolah diberlakukan bagi daerah yang sudah dinyatakan aman, tapi kadang data yang terdapat di pemerintahan pusat dan daerah tidak sinkron.

Disamping demikian juga belum terdapat penetapan protokol kesehatan khusus jika sekolah akan dibuka kembali. Meskipun terdapat protokol kesehatan secara umum seperti mencuci tangan, penggunaan handsinitizer, memakai master, jaga imunitas tubuh, dan penyediaan APD di UKS.

Namun, jika terjadi pelonggaran PSBB dibidang pendidikan yang mayoritas adalah usia anak-anak yang butuh peringatan berulang-ulang dan pengawasan yang tegas justru menyulitkan bagi tenaga pendidik

mengkondisikan keamanan siswanya. Belum lagi bagi siswa yang kita belum bisa memastikan
dirumahnya berinteraksi dengan siapa dan memiliki imunitas rendah, bisa jadi ketika datang sekolah dan berinteraksi dengan temannya justru akan menularkan penyakit.
.
KETEGASAN ARAH KEBIJAKAN

Terkait keputusan akan dibukanya kembali sekolah pada tahun ajaran baru perlu ditindak tegas arahkebijakan ini seperti apa.

Harus bisa dipastikan bahwa tidak sekedar kondisi di daerah saja yang aman,
tapi juga kondisi negara atau semua daerah sudah benar-benar aman dari sebaran virus.

Karena tidak ada upaya lain memutus rantai penyebaran virus selain dengan social distance dan physical distance.
Tidak cukup dengan pemberian protokol kesehatan saja, namun juga dari segi teknis pelaksanaan dan pengawasannya.

Terlebih jika yang diawasi peserta didik di bangku sekolah dasar dan menengah, yang
butuh terus dipantau dalam berinteraksi di kelas bersama teman-temannya.

Disaat pembelajaran biasa saja satu guru harus menghandle satu kelas kadang terasa kesulitan untuk memantau siswa untuk mentaati suatu aturan, apalagi terkait pantauan kepada siswa untuk social distance, justru guru disibukkan dengan hal ini dan tidak fokus pada program pembelajaran.

Jangan sampai dengan adanya pelonggaran PSBB di bidang pendidikan justru akan menimbulkan masalah baru dan menjadikan guru dan siswa sebagai korban.
.
Selain itu, jika memang pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan diperpanjang, maka harus ada pembenahan program pembelajaran via daring untuk memudahkan proses belajar mengajar guru kepada siswa karena kita semua tidak tahu kapan pandemi ini akan segera berakhir.

Sehingga, hak siswa untuk menuntut ilmu tidak terhalangi meskipun aktivitas pembelajaran dilakukan dirumah selama masa pandemi.

Guru harus diberikan pelatihan via daring pula untuk mengembangkan inovasi dan kreativitas
dalam pengajaran daring agar tidak melulu memberikan tugas pada siswa. Dari sinilah harus terdapat harmonisasi antara kementerian pendidikan, guru, siswa, dan orang tua.

ISLAM SOLUSI HAKIKI

Seluruh umat harus mengakui bahwa pandemi covid-19 adalah persoalan kita semua, karena melanda hampir seluruh provinsi di negeri ini. Pun pemerintah harus terus berupaya mengurusi hajat hidup masyarakat tak terkecuali dalam bidang pendidikan.

Jangan sampai proses belajar mengajar terkendala karena Pembelajaran Jarak Jauh, mengingat siswa sekarang adalah penerus generasi masa depan yang
harus terus menerus belajar agar menjadi manusia yang unggul dan berkepribadian islam.

Demikian pula, terkait kewenangan penuh seorang pemimpin dalam mengambil keputusan. Melihatkondisi sekarang, hampir seluruh provinsi di negeri ini termasuk zona merah, harusnya pemerintah memiliki sikap tegas dan berpikir panjang ketika akan membuka kembali sekolah.

Pemerintah harus benar-benar memastikan bahwa virus sudah tidak lagi menyebar, agar tidak ada lagi korban akibat pelonggaran PSBB di bidang pendidikan.Seperti halnya saat terjadi wabah, pemimpin Islam sangat tegas mengambil keputusan, yakni diberlakukan lockdown bagi wilayah yang terserang

wabah sebagai upaya pemutusan rantai penularan. Karena dalam sistem Islam, pada saat terjadi wabah, kesehatan dan keselamatan nyawa umat menjadi fokus utama, juga dengan memperhatikan aspek lain yang mendukung keberhasilan penyebarannya.
.
Islam telah memberikan metode penanggulangan wabah yakni pembatasan wabah di daerah asal.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: " apabila kalian mendengar wabah disuatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu berada ditempat itu, maka janganlah kamu keluar darinya". (HR. Imam Muslim).

Meskipun istilah yang digunakan seperti lockdown, karantina wilayah, PSBB namun pada saat ini pelaksanaannya jauh dari kata ideal. Banyak terjadi pelonggaran karena memenuhi kepentingan roda ekonomi agar terus berjalan. Sehingga, semakin banyak korban yang berjatuhan karena rantai penyebaran tidak dihentikan.
.
Seorang pemimpin harus tegas dan jelas dalam memberikan solusi, karena hal ini menyangkut nyawa umat.

Para pemimpin Islam telah membuktikan bagaimana cara penanggulangan wabah dan terbuktikeberhasilannya.

Sehingga rakyat merasa memiliki pelindung dan pengurus dimasa ujian wabah ini.
Seorang pemimpin harus sadar bahwa rakyat yang dipimpinnya adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.

Saatnya kembali pada Islam, karena sejatinya solusi Islam adalah solusi fundamental yang berasal dari Dzat Yang Maha Agung bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah.

(diq)