Kakek Cangkul dan Nenek Gayung Versi Barak Induk

274

Medan, Zonasumut.com – Artikel. Jika mendengar nama Kakek Cangkul dan Nenek Gayung disebut, yang tercermin dalam ekspektasi masyarakat Indonesia pada umumnya adalah tokoh utama yang tak lain merupakan sepasang suami istri di sebuah film horor.

Film tersebut menceritakan bahwa keduanya menjelma menjadi sosok hantu menyeramkan yang gentayangan di sebuah perkampungan warga, dimana Nenek Gayung dan Kakek Cangkul sama-sama memiliki kisah tragis dalam kematiannya. Namun siapa sangka bahwa sosok tersebut justru muncul dalam kehidupan nyata.

Mereka tinggal di sebuah pemukiman bernama Barak Induk, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Tak jauh beda dari cerita yang beredar di masyarakat, Nenek Gayung dan Kakek Cangkul versi Barak Induk juga merupakan sepasang suami istri.

Tapi mereka buanlah sosok hantu seperti kisah horor yang melegenda di Indonesia hingga saat ini, mereka hanya pasangan manusia biasa.

Bahkan mereka begitu ramah dan menyenangkan, sangat berbanding terbalik dengan cerita fiktifnya.

Kakek Cangkul sendiri memiliki nama asli Ranimin, sedangkan nama asli Nenek Gayung adalah Miyem.

Mereka mengaku bahwa tak mengetahui alasan pasti mengapa julukan tersebut disematkan pada mereka. Diduga, julukan Kakek Cangkul diberikan karena kek Ranimin sendiri sangat suka mencangkul dan hasil cangkulannya diakui sangat rapi meskipun kerjanya terbilang lambat karena faktor usia. Sedangkan julukan Nenek Gayung diberikan karena Nek Miyem merupakan istri dari Kek Cangkul, Namun mereka sama sekali tidak merasa terganggu dengan julukan tersebut.

Kek Cangkul dan Nek Gayung mulanya berasal dari Blitar, Jawa Timur. Selama di Blitar, Kek Cangkul mengaku bahwa dirinya adalah seorang Hansip yang ditugaskan menjaga rumah presiden Soekarno. Di masa itu, Hansip setara dengan ABRI pada saat sekarang. Menurut cerita kakek Cangkul, angkatan Soekarno pada masa itu ditransmigrasikan dari Blitar ke berbagai daerah di Indonesia. Kek Cangkul sendiri dikirim ke Meulaboh, Aceh Barat, NAD pada tahun 1980-an. Kehidupan Kek Cangkul dan Nek Gayung terbilang cukup makmur pada saat itu, sampai akhirnya mereka harus terusir dari Aceh karena tragedi pemberontakan GAM. Sama seperti kisah warga Barak Induk pada umumnya.

Surat Keterangan pelatihan Hansip milik Kek Gayung

“Setelah keluar dari Aceh tahun 2001, kami di sosial (diungsikan) di Medan selama 2,5 tahun, setelah itu lontang-lantung sampai menetap di daerah Kebun Lada, Tandam Hilir, Binjai, Langkat.

Kami gak tahu kalau disini ada lahan bukaan. Tahun 2006 barulah datang kesini (Barak Induk),” ungkap Kek Cangkul menjelaskan.

Setelah mengetahui ada lahan bukaan, Kek Cangkul dan Nek Gayung memilih untuk menikmati usia senjanya di Barak Induk. Kek Cangkul dan Nek Gayung tidak memiliki apapun di Barak Induk, Kek Cangkul hanya kerja serabutan mengandalkan keahlian mencangkulnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nek Gayung sendiri memanfaatkan kemampuan mengusuknya untuk mendapatkan uang.

Melihat kondisi ekonomi mereka, warga Barak Induk berinisiatif mendirikan sebuah rumah seadanya menggunakan dana swadaya untuk Nek Cangkul dan Nek Gayung.
“Kakek sama Nnek ini ya gak punya apa-apa toh Ndok, anak pada jauh, rumah dibuatkan warga, tapi ladang Kakek ya sepanjang jalan ini,” canda Kek Cangkul ketika penulis wawancarai pada Kamis, 07 April 2021.

“Ada orang minta kusuk kadang ya satu minggu dua hari, kadang ada juga orang yang kasih uang untuk makan,” tambah Nek Gayung menjelaskan.

Hal unik dari sosok Kek Cangkul bukan hanya terletak pada nama julukannya saja, ternyata Kek Cangkul memiliki pengetahuan sejarah yang cukup luas meskipun ia hanya tamatan Sekolah Dasar. Kek Cangkul banyak bercerita mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan hingga masa awal kemerdekaan, bercerita tentang kepribadian seorang Soekarno yang tidak diketahui umum, beberapa pahlawan, sejarah pemberontakan di Aceh, bahkan hingga isu-isu terkini di Indonesia.

Dari Kakek Cangkul, penulis dapat mengambil pelajaran bahwa mencintai sejarah sama dengan mencintai Indonesia. Buruknya Indonesia bukan berarti buruknya negara, melainkan akibat dari keegoisan bangsanya sendiri. Meskipun hidup seadanya, kek cangkul dan nek gayung tidak pernah meminta-minta.

Melalui kisah mereka, kita dapat melihat bahwa kebahagiaan tidak tercipta dari banyaknya harta, melainkan dari kerukunan dan kedamaian sesama manusia.

Dwi Sartika, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Langsa, KPM 2021, DPL : Junaidi, M.Pd.I

(mil-diq)